Headlines News :
Home » » Sentra Indrustri Gerabah Banyumulek

Sentra Indrustri Gerabah Banyumulek

Written By Unknown on Oct 18, 2011 | Tuesday, October 18, 2011

A. Selayang Pandang


Kalau Anda mengenal sentra indrustri kerajinan seni gerabah di Desa Kasongan, Yogyakarta, maka di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, juga ada sentra industri serupa tepatnya di Desa Banyumulek, yakni Sentra Industri Gerabah Banyumulek. Sentra kerajinan ini sudah cukup terkenal di Pulau Lombok dan pulau sekitarnya, serta telah dijadikan desa wisata andalan yang menjadi tujuan wisatawan saat mencari cenderamata/suvenir yang akan dibawa pulang ke wilayah/negeri asalnya.

Kawasan Banyumulek—yang dalam bahasa Sasak berarti air jernih—memang dikenal sebagai wilayah dengan kualitas tanah lempung nomor satu di Pulau Lombok. Maka tidak aneh, jika pengrajin gerabah banyak muncul di desa ini, dan akhirnya ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat sebagai sentra industri gerabah unggulan Nusa Tenggara Barat.

Menurut cerita yang beredar secara turun-temurun mengenai Desa Banyumulek, perempuan di desa ini digambarkan sebagai pembuat gerabah selao atau gentong yang sangat ulung, sedangkan para lelaki dewasanya kemudian menjajakan gentong tersebut dengan cara memikulnya keliling kampung. Namun, sejak pariwisata Lombok mulai berkembang (1990-an), gambaran tentang Desa Banyumulek pun mulai berubah. Tak ada lagi lelaki yang memikul gerabah keliling kampung, karena telah muncul art shop-art shop yang khusus menjual produk-produk kerajinan gerabah mereka. Sejak tahun-tahun tersebut, kerajinan gerabah Banyumulek pun mulai bervariasi dan tidak hanya membuat kerajinan gentong saja, melainkan telah mulai memproduksi jenis gerabah lain, seperti anglo, wajan, periuk, kendi, dan masih banyak lainnya.

Cerita lain yang menggambarkan kedekatan masyarakat Lombok dengan gerabah dilukiskan secara apik dalam cerita rakyat (legenda) tentang Dewi Anjani. Menurut legenda tersebut, Dewi Anjani mengirimkan seekor burung pembawa pesan (Manuk Bre) untuk menolong sepasang manusia yang kebingungan menanak beras hasil panen pertama mereka. Melalui burung tersebut, Dewi Anjani lalu mengajari manusia mengolah tanah gunung menjadi periuk. Mungkin, cerita ini sedikit menggambarkan bagaimana masyarakat Lombok dari dulu memang telah dekat dan menggeluti kerajinan gerabah.

Perkembangan industri gerabah di Desa Banyumulek berkembang pesat, salah satunya, karena kehadiran sebuah lembaga pendamping bernama Lombok Pottery Center Indonesia-New Zealand, dengan programnya Lombok Craft Project. Lembaga yang didirikan atas inisiatif seniman Selandia Baru ini mulai membina dan membantu pengrajin gerabah pada tahun 1988. Lembaga yang mendapat suntikan dana dari Pemerintah Selandia Baru ini tidak hanya membantu para pengrajin dalam mengembangkan usaha gerabahnya, melainkan juga menfasilitasi terbentuknya asosiasi pengarajin dan koperasi gerabah, serta jaringan pemasaran ke wilayah-wilayah Indonesia dan mancanegara.

Lombok Pottery Center sebenarnya tidak hanya membina para pengrajin gerabah di Desa Banyumulek saja, melainkan juga ikut membantu para pengrajin gerabah desa lain yang ada di Pulau Lombok, seperti Desa Panunjak (Kabupaten Lombok Tengah) dan Desa Masbagik (Kabupaten Lombok Timur). Namun, di antara desa-desa ini, Banyumulek memang lebih terkenal. Setelah berkembang pesat, bersama-sama dengan desa-desa gerabah lainnya, produk kerajinan gerabah Desa Banyumulek mulai merambah pasar internasional. Tidak kurang dari 28 negara tujuan pasaran industri gerabah Lombok, seperti Amerika, Italia, Belanda, Selandia Baru, Australia, Yunani, Polandia, Norwegia, India, dan lainnya. Tahun 2002, nilai ekspor gerabah Lombok tercatat sekitar 1,116 juta dollar AS.




Dua perempuan Banyumulek Membuat Gerabah
Sumber Foto : http://www.flickr.com/photos/tanenhaus

Untuk pasaran Indonesia, hasil kerajinan Gerabah Banyumulek sebagaian besar dipasarkan di Bali, yang bersaing ketat dengan gerabah Pleret (Purwakarta/Jawa Barat) dan Gerabah Kasongan (Yogyakarta). Sedangkan di Luar Negeri, pasaran gerabah Banyumulek bersaing ketat dengan gerabah Thailand. Namun, di antara gerabah-gerabah tersebut, gerabah Banyumulek mempunyai keunggulan tersendiri, yakni kandungan pasir kuarsa yang cukup tinggi, koalin yang bagus, dan juga dilengkapi dengan sertifikat tidak beracun, sehingga aman sebagai tempat menyajikan makanan.


Namun, kejayaan industri kerajinan gerabah Banyumulek juga sempat terpuruk. Peristiwa Bom Bali di Kuta pada tanggal 12 Oktober 2002 menyebabkan pasaran industri kerajinan gerabah Banyumulek menjadi surut, bahkan lumpuh sama sekali. Menurut survei yang dilakukan oleh Univeritas Mataram di Kota Lombok menyebutkan, akibat peristiwa peledakan Bom Bali, penjualan hasil industri yang berhubungan dengan pariwisata menurun hingga 50 persen, tak terkecuali industri gerabah Banyumulek. Padahal, sebelum peristiwa ledakan bom tersebut, industri kerajian Gerabah Banyumulek dan desa-desa gerabah lainnya di Pulau Lombok menyuplai 75 persen produknya ke Bali, sementara 25 persen lainnya dijual di Lombok dan untuk keperluan ekspor.


Setelah kondisi pariwisata Bali dan Lombok mulai membaik, kini industri kerajinan Banyumulek mulai bergeliat dan berkembang pelan-pelan. Untuk mendukung berkembangnya kerajinan gerabah Banyumulek pasca-ledakan Bom Bali, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nusa Tenggara Barat mulai merencanakan langkah-langkah, seperti mengikuti pameran hasil kerajinan tangan di dalam maupun luar negeri dan mendaftarkan hak paten produk gerabah Lombok, tak terkecuali gerabah Banyumulek.


B. Keistimewaan


Berkunjung ke Desa Banyumulek mungkin dapat menjadi alternatif tersendiri bagi para pecinta hasil kerajinan tangan, khususnya gerabah. Saat memasuki desa, wisatawan akan disambut sebuah gapura rangka besi bertuliskan “Sentra Industri Gerabah Banyumulek”. Setelah masuk, di sepanjang jalan desa yang terletak sekitar 14 kilometer bagian selatan Kota Mataram ini (Ibu Kota Nusa Tenggara Barat), wisatawan segera akan melihat deretan art shop di depan rumah-rumah warga. Deretan art shop ini menjajakan beraneka kerajinan gerabah seperti selao (gentong), dumang (anglo), kekete atau sigon (wajan), kemek (periuk), ceret, tong sampah, guci, dan masih banyak lagi. Selain kerajinan yang bersifat fungsional, seperi periuk dan gentong, produk kerajinan gerabah Banyumulek juga menyediakan hasil kerajinan untuk dekorasi ruangan, seperti asbak, vas bunga, patung, mangkuk, lampu tembok, dan hiasan dinding.


Harga kerajinan gerabah di Banyumulek bervariasi tergantung model gerabah dan tingkat kesulitan membuatnya, yakni antara Rp 5.000 hingga Rp 500.000. Sebagai contoh, lampu hias dijual seharga Rp 55.000, ceret atau teko Rp 12.500, pot bunga Rp 5.000—20.000, tong sampah mewah Rp 40.000, gentong besar Rp 75.000, aneka guci Rp 50.000, mangkuk buah motif primitif Rp 40.000, satu tea-set motif kulit telur Rp 60.000, dan berbagai hiasan dinding yang harganya mulai Rp 30.000 hingga Rp 300.000 (Desember 2008).


Selain itu, ada juga gerabah yang dibuat dari kulit telur ayam. Harga gerabah jenis ini lebih mahal, berkisar antara Rp 200.000—Rp 300.000 per buah. Lainnya adalah hiasan dinding kaligrafi Arab bertuliskan Allah dan Muhammad yang juga menggunakan kulit telur, pasir putih, dan kulit kayu, seharga Rp 30.000 per pasang. Ada juga asbak rokok dalam berbagai bentuk seharga Rp 5.000—10.000 (Desember 2008).


Yang menarik dari kerajinan gerabah Banyumulek adalah cara pembuatannya yang masih tetap mempertahankan teknik pembakaran tradisional, yakni dengan menggunakan jerami dan kayu bakar. Teknik pembakaran ini sering dikenal dengan nama tenunuq lendang atau pembakaran gerabah di tengah kebun. Karena pembakaran dilakukan secara terbuka (di luar ruangan), teknik ini konon memiliki keuntungan, yakni gerabah dapat dikeluarkan secara lebih leluasa, untuk diwarnai atau ditambahi dengan hiasan dan ukiran. Namun, meskipun begitu, gerabah dengan teknik pembakaran seperti ini biasanya lebih rapuh.






Membakar Gerabah
Sumber Foto: http://www.thingsasian.com

Keunikan dan daya tarik lainnya dari hasil kerajinan gerabah Banyumulek adalah hiasan atau anyaman yang terbuat dari sejenis kayu rotan sebagai penghias gerabah-gerabah tersebut. Anyam-anyaman ini disebut anyaman Ketak Lombok. Ketak adalah sejenis pohon mirip rotan yang bisa dipakai untuk membuat anyaman. Selain itu, gerabah Banyumulek biasanya juga dihiasi dengan pasir putih yang ditempelkan dengan bentuk dan motif tertentu, sehingga membentuk hiasan yang apik dan menarik. Jika berminat, wisatawan juga dapat menyaksikan secara langsung pembuatan gerabah-gerabah cantik tersebut. Perlu diketahui, kebanyakan para pengrajin gerabah di Banyumulek adalah wanita, terutama ibu-ibu. Mungkin ada semancam kepercayaan di masyarakat Banyumulek, bahwa wanita bisa lebih teliti dan detail, sehingga sangat memengaruhi hasil akhir pembuatan gerabah tersebut.


Dari sekian jenis gerabah yang dihasilkan di Banyumulek, ada salah satu model gerabah yang punya keunikan tersendiri dan tidak ditemui di sentra industri kerajinan gerabah lain, yakni Kendi Maling. Kendi adalah semacam alat minum seperti teko yang dibuat dari tanah liat. Kendi Maling ini memang sekilas sama dengan kendi-kendi lain, yakni sama-sama sebagai tempat untuk minum, namun kalau diamati lebih jeli, Kendi Maling memiliki perbedaan, yakni adanya lubang di bagian bawah kendi, tempat untuk mengisi air. Singkatnya, kalau kendi-kendi pada umumnya diisi air melalui lubang di bagian atas, maka Kendi Maling diisi air melalui lubang di bagian bawah. Uniknya, jika kendi tersebut diisi air kemudian dibalik dalam posisi berdiri, maka air tersebut tak akan tumpah.


Konon, nama Kendi Maling sangat terkait dengan cerita yang beredar di masyarakat Lombok. Cerita itu mengatakan bahwa jika ada maling atau pencuri masuk dan mencuri di daerah Lombok pasti pencuri itu tidak bisa keluar dari daerah tersebut, dan akhirnya dapat ditangkap. Mungkin cerita inilah yang menjadi muasal nama Kendi Maling.






Salah satu model Ceret Maling
Sumber Foto: http://www.wisatanet.com

Kalau mencermati secara detail hasil kerajinan gerabah di Banyumulek, wisatawan dapat melihat ragam hias gerabah di desa ini kebanyakan menggunakan motif tanaman, yang berbeda dengan ragam hias gerabah desa lainnya di Lombok, misalnya kerajinan dari Desa Panunjak (Lombok Tengah) dan Desa Masbagik (Lombok Timur) yang bercirikan motif binatang laut dan motif orang. Motif-motif pada gerabah di Lombok ini biasanya masih memadukan ciri budaya masyarakat Sasak dalam hiasan gerabahnya.


C. Lokasi


Desa Banyumulek berada di Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Desa ini terletak sekitar 14 kilometer bagian selatan Kota Mataram, Ibu Kota Nusa Tenggara Barat.


D. Akses


Akses menuju Desa banyumulek cukup mudah, karena telah ada pelabuhan dan bandara di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, bagi wisatawan yang berasal dari luar kota. Apabila bertolak dari Pulau Bali, wisatawan dapat berangkat dengan menggunakan pesawat terbang dari Bandara Ngurah Rai Denpasar menuju Bandara Selaparang di Mataram (Ibu Kota NTB), yang hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit saja. Selain dari Bali, wisatawan juga dapat menempuh perjalanan udara dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bali, dan Yogyakarta. Dengan menggunakan pesawat terbang dari salah satu kota tersebut, wisatawan akan sampai ke Bandara Selaparang, Mataram. Desa Banyumulek berjarak sekitar 14 kilometer dari Kota Mataram. Dari Kota Mataram, Wisatawan dapat menggunakan taksi atau kendaraan umum lain menuju Desa Banyumulek dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Selain dari Bandara Ngurah Rai (Bali), wisatawan juga dapat berangkat dari Pelabuhan Padang Bay di Bali menggunakan kapal feri menuju Pelabuhan Lembar di Pulau Lombok. Dalam perjalanan, wisatawan akan dimanjakan dengan panorama alam yang indah dan juga munculnya ikan lumba-lumba yang saling berkejaran mengikuti kapal. Perjalanan Padang Bay—Lembar dengan kapal feri memakan waktu sekitar 4 jam. Setelah sampai di Pelabuhan Lembar, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Kota Mataram. Dari Kota Mataram, dapat langsung menuju Desa Banyumulek.

E. Harga Tiket


Wisatawan yang berkunjung ke Senta Industri Gerabah di Desa Banyumulek tidak dikenai biaya masuk.


F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya


Di Desa Banyumulek terdapat masjid, mushola, warung makan, dan tempat parkir yang memadai.
Share this article :

0 Komentar:

Total Pageviews

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. PORTAL KAMPUNGAN - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template